Social Icons

Minggu, 17 November 2013

De Ja Vu, Whats That?

Pernah mengalami situasi yang secara sadar kamu mengenal betul situasi itu, dan yakin telah kamu lalui sebelumnya? Atau mungkin mengalami suatu situasi saat kamu bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya dan kemudian hal itu benar-benar terjadi seperti yang kamu rasakan karena telah kamu lalui sebelumnya? Jika kamu pernah mengalami hal-hal tersebut, itulah yang dinamakan Deja vu.

  
Apakah Deja vu itu? 
Deja vu, diambil dari Bahasa Perancis, adalah suatu perasaan ketika seseorang mengalami sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya. Singkatnya, deja vu berarti, "pernah mengalami."

Deja vu merupakan peristiwa di mana seseorang merasa yakin telah mengalami situasi baru sebelumnya. Selama mengalami sebuah situasi baru, seseorang merasakan suatu kesamaan dengan sesuatu yang dialami di masa lalu. Seseorang merasa telah melalui hal yang sama baru saja terjadi di masa lalu atau telah melihat hal itu dalam mimpinya.

Istilah Deja vu ini pertama kali diperkenalkan oleh Emile Boirac yang merupakan seorang peneliti di bidang psikologi berkebangsaan Perancis. Kebanyakan mereka yang mengalami Deja vu mengklaim telah melihat sesatu dalam mimpi mereka atau sangat yakin telah melihat itu beberapa waktu yang lalu.

Sekelompok orang mengasosiasikannya dengan gangguan pada otak sedangkan lainnya menghubungkan Deja vu dengan kehidupan lain di masa lalu. Apa sih sebenarnya Deja vu ini? Mari kita telusuri bersama.

Beberapa Jenis Deja vu
Deja Senti: perasaan ini merujuk pada sesuatu "yang sudah dirasakan". Hal itu merupakan fenomena kejiwaan dan para peneliti meyakini bahwa sesuatu yang telah dirasakan di masa lalu itu sangat mirip dengan yang dirasakan saat ini. Kesamaan pada kedua pengalaman tersebut membuat seseorang merasa bahwa dia telah merasakan hal yang sama di masa lalu.

Deja Vecu: suatu perasaan bahwasanya segala sesuatu yang sedang terjadi baru saja itu identik dengan apa yang terjadi sebelumnya serta satu gagasan tidak wajar tentang apa yang akan terjadi berikutnya. Diterminologikan sebagai Deja vecu. Seseorang yang mengalami perasaan Deja vecu mengklaim telah mengetahui apa yang sedikit lagi akan terjadi dan kadang kala merasa telah mengingat hal tersebut.

Deja Visite: bentuk Deja vu ini merupakan suatu perasaan pernah mengunjungi suatu tempat yang benar-benar baru. Seseorang yang mengalami bentuk Deja vu ini mengklaim memiliki pengetahuan tentang sebuah tempat yang belum dikunjungi. Seseorang mengklaim mengetahui letak geografi suatu tempat, ketika dia belum pernah ke sana dalam kenyataannya.

Para peneliti telah lama mencari berbagai sebab di balik Deja vu. Mereka mengasosiasikan penyakit-penyakit seperti schizophrenia, kegelisahan atau gangguan neurologi lainnya. Para peneliti belum mencapai kesuksesan dalam membangun hubungan antara penyakit-penyakit tersebut dengan Deja vu.

Namun, para peneliti telah menemukan bahwa Deja vu bisa saja merupakan hasil dari kegagalan sistem kelistrikan otak. Deja vu dipercaya sebagai suatu sensasi yang salah pada ingatan atau memori.

Beberapa obat-obatan juga dipercaya sebaga salah satu faktor yang memicu Deja vu. Obat-obatan seperti amantadine dan phenylpropanolamine telah diteliti sebagai penyebab perasaan Deja vu. Beberapa obat-obatan bisa menyebabkan aksi hyperdopaminergic pada area mesial temporal otak yang menyebabkan Deja vu.


Deja Vu dalam lab

Baru-baru ini, sebuah eksperimen pada tikus mungkin dapat memberi pencerahan baru mengenai asal-usul deja vu yang sebenarnya. 

Susumu Tonegawa, seorang neuroscientist MIT, membiakkan sejumlah tikus yang tidak memiliki dentate gyrus, sebuah bagian kecil dari hippocampus, yang berfungsi normal. Bagian ini sebelumnya diketahui terkait dengan ingatan episodik, yaitu ingatan mengenai pengalaman pribadi kita. 

Ketika menjumpai sebuah situasi, dentate gyrus akan mencatat tanda-tanda visual, audio, bau, waktu, dan tanda-tanda lainnya dari panca indra untuk dicocokkan dengan ingatan episodik kita. Jika tidak ada yang cocok, situasi ini akan ‘didaftarkan’ sebagai pengalaman baru dan dicatat untuk pembandingan di masa depan.

Menurut Tonegawa, tikus normal mempunyai kemampuan yang sama seperti manusia dalam mencocokkan persamaan dan perbedaan antara beberapa situasi. 

Namun, seperti yang telah diduga, tikus-tikus yang dentate gyrus-nya tidak berfungsi normal kemudian mengalami kesulitan dalam membedakan dua situasi yang serupa tapi tak sama. Hal ini, tambahnya, dapat menjelaskan mengapa pengalaman akan deja vu meningkat seiring bertambahnya usia atau munculnya penyakit-penyakit degeneratif seperti Alzheimer: kehilangan atau rusaknya sel-sel pada dentate gyrus akibat kedua hal tersebut membuat kita sulit menentukan apakah sesuatu ‘baru’ atau ‘lama’.



Otak manusia merupakan organ yang kompleks dan sangat menarik. Sudah merupakan kecenderungan, bahwa otak untuk menarik kesimpulan dari berbagai situasi yang berbeda. Otak seringkali mencoba untuk bereksperimen mereproduksi suatu situasi yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Oleh karena itu antisipasi beberapa kejadian oleh seseorang bisa membuat orang tersebut berpikir bahwa dia telah mengalami suatu kejadian yang sama di masa lalu.

Yang menarik di sini, bisa saja terjadi bahwa salah satu dari mata kita melihat sesuatu sebelum mata yang lain. Satu mata merekam kejadian sebelumnya. Mata yang lainnya, yang merekam kejadian yang sama beberapa milidetik kemudian, membuat otak merasakan ingatan.

Salah satu mata merasakan sesuatu dan otak mengartikannya. Mata lain yang tertinggal beberapa milidetik merasakan hal yang sama dan mengirim gambar tersebut ke otak. Begitu otak merasakan hal yang sama beberapa milidetik kemudian, orang tersebut merasa bahwa dia telah melihat itu sebelumnya. Namun gagasan ilmiah ini tidak dapat menjadi alasan tepat untuk Deja vu karena orang yang hanya memiliki satu mata juga mengalami Deja vu.

Pada akhirnya, deja vu masih jadi misteri ilmu pengetahuan. Beberapa teori terkait dengan Deja vu pada kemampuan fisik tertentu yang dimiliki manusia. Di lain pihak, orang lain mengatakan bahwa perasaan Deja vu merupakan hasil dari kehidupan lain di masa lalu.

Elysia chlorotica
Half Plant Half Animal


  






 by :
            Name                 : Ridlo Firmansyah
          NIM                  : 130210103078
             Study Program   : Biology Education



BIOLOGY EDUCATION
FACULTY OF TEACHER TRAINING AND EDUCATION
JEMBER UNIVERSITY
                                                           2013



Geographic Range
            Elysia chlorotica, commonly known as the eastern emerald elysia, is found along the eastern coast of the United States, as far north as Nova Scotia, Canada and as south as southern Florida (Rumpho, et al., 2011)
Habitat
            Elysia chlorotica is found in salt and tidal marshes, shallow creeks, and pools with depths of less than 0.5 m. The eastern sea slug is the most euryhaline osmoconformer known to date. The slug can survive salinity levels ranging from nearly fresh water (~24 mosm) to brackish salt water (~2422 mosm). Elysia chlorotica is generally found close to its main food source, Vaucheria litorea, an intertidal alga. The slug has an obligate relationship with the alga for both nutrients and physical development (Green, et al., 2000).
Physical Description
            Elysia chlorotica has two main life stages: a juvenile stage which is defined as the time before the slug begins feeding on V. litorea, and an adult stage. The stages of development are distinguishable based on the slug’s morphology and coloring. The slugs start as veliger larva, meaning they are equipped with a shell and ciliated vellum used for swimming and obtaining food. After metamorphosing to juveniles, the slugs are normally brown with ventrally-located spots of red pigmentation. Elysia chlorotica only undergoes metamorphosis into the adult phase after exposure to and consumption of V. litorea, at which time its coloring and morphology also change. After the initial feeding, E. Chlorotica sequesters chloroplasts obtained from the plant into its specialized digestive tract. The presence of the chloroplasts turns the slug from brown to bright green. Most adults lose the red spots. The green color persists only as long as the slug has functional chloroplasts in its cells. When the chloroplasts are expelled, the slug loses its bright green color and reverts to a gray color. Adults normally range in size from 20 to 30 mm but specimens of up to 60 mm have been documented. The eastern emerald elsyia obtains its name from its adult structure. Elysid refers to the adult slug’s leaf-like shape which is caused by two large lateral parapodia on either side of its body. This morphology is beneficial as both camouflage and allowing the slug to be more efficient at photosynthesis. Other members of this family are distinguished by their parapodia in addition to bright coloring (Colin, 1978).



  


Development
            The blastula of a developing Elysia chlorotica egg is holoblastic and spiral, meaning the eggs completely divide. At division, each plane is at an oblique angle to the animal's vegetal axis. Cells produce multiple tiers of cells with no clear center; this is referred to as a stereoblastula. Movements of cells occur by a process referred to as epiboly. Epiboly means that during development the ectoderm cells spread out to cover both the mesoderm and endoderm cell layers.
Elysia chlorotica has a veliger, juvenile, and adult stage of life. As a veliger larva, E. chlorotica has a shell and ciliated vellum, a common feature among a sea slug's developmental cycle. During the larval stage these cilia help the larva to swim in its aquatic environment. Coloration in the larva is different due to the lack of retained chloroplasts in their diverticula. Diverticula are essentially openings along the digestive tract that result in small pocket in which an animal can store food, or in this case stolen chloroplasts. Veligers will metamorphose into juveniles in one to two days after exposure to V. litorea. After 14 days of exposure to V. litorea and an additional two days of constant contact with this plant, E. chlorotica metamorphoses into the adult leaf-shaped sea slug. The adult sea slug is bright green in color due to chloroplast cells that have been sequestered into the complex diverticula of the animal. Adults die shortly after they lay their string of eggs. Researcher Sidney Pierce suggests mass death is due to the expression of an unknown retro acting virus (Schmitt, et al., 2007)




Reproduction
            In a similar species, the mating behaviors of Elysia chlorotica are dependent on the responses generated by the potential partner. These slugs will approach each other head to head and feel the other’s head with their own. Then, one (no way of telling how they decide which begins to move) will proceed downward moving their head down along the other slug’s body. If the partner accepts the invitation to mate the slugs will align head to tail. When the proper alignment is established, mating begins where both slugs insert their penes into the other’s genital area. Sexually reproducing hermaphrodites may act only as female or male. Sperm are less costly than eggs, so functioning as a male may be more desirable energetically. Many species of sea slugs within the clade Sacoglossa practice hypodermic insemination, in which the sperm of one slug is injected directly into the surface of another slug. They penetrate directly into the mate’s body in the general area of the others gonads and release the sperm directly inside their partner. These slugs are simultaneous hermaphrodites, capable of internal self-fertilization, although this particular species more commonly outcrosses. Out-crossing is essential sexual reproduction with another individual. Eggs are laid in long mucous-laden strings, hatching approximately in a week. The eastern emerald elysia breeds once a year in the early spring (Rumpho, et al., 2011).

Lifespan
            Elysia chlorotica lives to be approximately 11 months old. Adults experience mass death after laying their string of eggs in the spring of each year both in the wild and when held in captivity. According to research done by Pierce this may be due to a viral expression not a biological clock. That means that although this death is synchronized among all adults it is due to the final stage of a disease that every slug inherits not an internal biological cue. (Pierce et al. 1984).

Food Habits
            Elysia chlorotica is a kleptoplastic member of the clade Sacoglossa, which are sap sucking sea slugs. This species feeds exclusively on V. litorea, and rarely feed upon Vaucheria compacta. The slug has an obligate relationship with its food source, requiring it for metamorphosis from the veliger to juvenile to the adult stage. As an adult, E. chlorotica obtains nutrients by consuming chloroplast cells from the alga. Elysia chlorotica removes the chloroplast cells from the plant by projecting its radula, a scraping structure into the alga’s cell walls, and then sucking out the contents of V. litorea cells. The contents of these cells pass through the slug’s highly specialized digestive tract. Over time the chloroplast cells are sequestered into the diverticula of the slug’s digestive system, causing it to turn bright green. After the digestive tract projects green coloration, E. chlorotica is fully capable of photosynthesis for up to 10 months. Due to the slug’s photosynthetic nature, this species can often be found “sun bathing”, or laying with their parapodia extended to obtain maximum sunlight exposure (Brandly, 1984).

Special Unique
            Elysia chlorotica is a “solar-powered” marine sea slug that sequesters and retains photosynthetically active chloroplasts from the algae it eats and, remarkably, has incorporated algal genes into its own genetic code. It is emerald green in color often with small red or white markings, has a slender shape typical of members of its genus, and parapodia (lateral "wings") that fold over its body in life. This sea slug is unique among animals to possess photosynthesis-specific genes and is an extraordinary example of symbiosis between an alga and mollusc, plant and animal as well as a genetic chimera of these two organisms.
To obtain algal chloroplasts Elysia chlorotica slugs use their radula (tooth) to pierce a filament of the alga Vaucheria litorea and suck out its contents. The ingested algal cytoplasm and nuclei move through the gut but algal chloroplasts are trapped and concentrated in vacuoles along branches of the digestive tract. While inside an algal cell, functional chloroplasts use proteins encoded by their own genes as well as others encoded by genes within the algal nucleus. Within a sea slug, however, isolated chloroplasts can not receive proteins from the algal genome. Remarkably, these chloroplasts remain functional anyway because the slug genome includes the algal genes necessary for plastid function. Elysia chlorotica probably gained these algal genes through lateral (or horizontal) gene transfer. One possible vector is a virus that infects the sea slug and carried pieces of algal DNA. So, that’s why this animals has the ability to does a photosynthesis processes and make a plant cell continue functioned on an animal cells (Pierce et al., 2003). 




References
Brandly, B. 1984. Aspects of the ecology and physiology of Elysia cf. furvacuda (Mollusca:    Sacoglossa). Bulletin of Marine Science, 34/2: 207-219
Colin, P. 1978. Marine Invertebrates And Plants of the Living Reef. Neptune city: T.F.H Publications
Green, B., W. Li, J. Manhart, T. Fox, E. Summer, R. Kennedy, S. Pierce, M. Rumpho. 2000. Mollusc-algal chloroplast endosymbiosis. Photosynthesis, thylakoid protein maintenance, and chloroplast gene expression continue for many months in the absence of the algal nucleus. Plant Physiology, 124/1: 331-342
Pierce, S., T. Maugel, M. Rumpho, J. Hanten, W. Mondy. 2003. Annual viral expression in a sea slug population: Life cycle control and symbiotic chloroplast maintenance. The Biological Bulletin, 197/6: 1-6
Rumpho, M., K. Pelletreau, A. Moustafa, D. Bhattacharya. 2011. The making of a photosynthetic animal. The Journal of Experimental Biology, 214/2: 303-311

Schmitt, V., N. Anthes, N. Michiels. 2007. Mating behaviour in the sea slug Elysia timida (Opisthobranchia, Sacoglossa): hypodermic injection, sperm transfer and balanced reciprocity. Frontiers in Zoology, 4/17: 1-9.

Jumat, 01 November 2013

Wish Granted


You Can't Live Without,,,,


My Profile

Okay, berikut saya ceritakan profil singkat mengenai saya.
My name is Ridlo Firmansyah, im twenty year my age (Heleh, malah pikisisasi).
Nama saya Ridlo Firmansyah, lahir di Sidoarjo 26 Juli 1995 (masih muda kan). TK di TK MINU 2 Waru, Sidoarjo. Yah, seperti anak TK layaknya, belajar dan bermain daro nol kecil hingga nol besar. Seusai TK, aku dihadapkan pada realita sulit yaitu harus pindah ke Jember, khususnya Kencong, khususnya lagi Wonorejo. SDN Wonorejo 1 menjadi tempat saya berikutnya, di tengah kesulitan berkomunikasi akibat perbedaan bahasa, tidak menjadi penghalang untuk dapat bersosialisasi, berteman, dan berprestasi. Buktinya dari kelas 1 hingga 6  selalu meraih juara kelas. Juara 2 tapi, karena juara 1 selalu disabet temanku (tak apalahh).
Beranjak SMP, adalah masa-masa ketika saya mulai terpengaruh oleh teman-teman saya. Gamers, itulah julukan mereka kepada saya. Padahal saya bersekolah di SMP yang unggulan di sini, yakni SMPN 1 Kencong. Tapi gara-gara keasyikan ngegame setiap hari, alhasil prestasi saya di SMP kurang maksimal. Sebagai gambaran, mungkin inilah saya ketika SMP.
Lanjut ke SMA. Mulai SMA, mulai Dewasa, mulai hilang kebiasaan ngegame saya, mulai sadar diri, mulai dibatasi uang sakunya. Hehehe. yah oleh karena itu saya mulai "niat". Ridlo yang dulu is come back. Buktinya saja SMP tidak pernah meraih juara kelas toh SMA akhirnya dapat juga. Kelas X Juara 3, kelas XI juara 2, dan kelas XII juara 1. Yeeeee :D
Pada saat SMA juga merupakan masa-masa "rajin" saya. Rajin dalam hal berorganisasi, berpartisipasi dalam berbagai event, lomba, dan lain lain. Memang benar kata orang, masa PUTIH ABU ABU adalah masa yang penuh warna, penuh cerita dibalik kain seragam yang hanya putih dan abu-abu tersebut. Setidaknya itu pula yang saya rasakan. Menemukan sahabat, cinta, mengalami hal-hal konyol, gokil, sedih, senang, semua campur aduk di sana. hemm jadi kangen. So bagi yang masih SMA, nikmatilah masa-masa sekali seumur hidup tersebut.

Dan sekarang, saya di sini. Di Universitas Tercinta, kebanggaan semua, Universitas Negeri Jember. "Yee UNEJ, kok ga UNAIR? kok ga UB?". yah, saya tidak pernah menganggap kata-kata tadi pernah ku dengar. Sedang menjalani studi S1 di FKIP Universitas Jember. "Yee FKIP, kok ga Kedokteran?" yah sekali lagi saya tidak pernah menganggap kata-kata tadi pernah ku dengar.
Intinya, kesuksesan itu bukan ditentukan oleh nama beken Universitas, bukan nama mentereng fakultas, tapi lebih kepada PHP. Proud, Happy, and Passion. Bangga pada pilihanmu, bangga pada apa yang telah kau dapat. Ini jalan yang Allah berikan kepadamu. Happy, di mana pun kau berada, be smile, be happy, and all of the world will smiling at you too. Passion, semangat, dorongan, dan motivasi. Ga peduli di manapun kau berada, kalau kau tidak mempunyai semangat dan fighting spirit yang kuat, untuk apa?.

Orang tua saya, orang-orang yang saya cintai, saya sudah berjanji untuk membahagiakan mereka. Memberangkatkan beliau ke tanah suci Mekkah. Mewujudkan cita-cita saya untuk menjadi pengajar, dosen, pergi ke tempat yang saya inginkan, berkontribusi kepada negara. Menjadi wakil rakyat. Bukan anggota legislatif. CAWARA, bukan CALEG. Saya tidak butuh kursi yang empuk untuk duduk, karena saya akan selalu berdiri untung menyambung lidah rakyat. Goalnya yakni saya ingin menjadi Menteri Pendidikan Indonesia, guna memperbaiki dan memperindah kanvas pendidikan di Indonesia.

Thanks for Reading. Hope all of my dream will come true. Semoga daftar impian saya dapat saya lihat sebagai sebuah coretan tanda bahwa saya sudah mencapainya.

Global Warming, How does?

Pemanasan Global : MASALAH, FAKTA, DAMPAK, dan SOLUSI

Kita, umat manusia telah dibombardir. Kapanpun kita melangkahkan kaki ke luar, kita selalu mendengar istilah "pemanasan global" dan "perubahan iklim". Kedua menu tersebut tentunya sudah tak asing lagi di telinga kita. Bagaimana tidak, sekarang gencar-gencarnya spanduk, artikel, seminar, yang membahas tentang kedua isu tersebut.



Perubahan iklim adalah suatu topik kompleks yang sering dibicarakan ; sekalipun demikian, hal ini tidak dapat dihindari karena sudah berada di depan mata kita.
Apa itu pemanasan global?
Pemanasan global (global warming adalah kenaikan suhu rata-rata di atmosfer dan di samudera bumi, yang cukup untuk mengakibatkan perubahan iklim (climate change).

Kabar terakhir yang tercatat, beberapa wilayah di bumi telah secara nyata mengalami kenaikan suhu rata-rata harian mereka. Suhu ini jelas berbeda jika dibandingkan dengan suhu 30 tahun yang lalu. 
Australia sebesar 1,8 derajat celcius, Sri Lanka sebesar 1,2 derajat celcius, Indonesia sebesar 1,8 derajat celcius, dan kenaikan suhu yang lebih parah adalah daerah sekitar sub tropik dan sub polar yang kenaikan suhunya dibandingkan 30 tahun  yang lalu telah mencapai 40 derajat celcius lebih.
Seandainya Indonesia sudah mencapai pertambahan suhu sekitar 20 derajat celcius, maka tak khayal 2000 pulau di Indonesia akan LENYAP dari peta dunia. (Seperti Atlantis? Bisa jadi).

Apa penyebabnya?
Penyebab global warming, tak lain dan tak bukan di antaranya adalah kenaikan jmlah karbondioksida dan gas rumah kaca di atmosfer bumi (melalui pembakaran bahan bakar fosil, pembukaan lahan, pembuangan limbah, dll).

Dari mana datangnya gas rumah kaca?


Gas-gas rumah kaca (Green House Gases) adalah beberapa jenis gas yang terperangkap di atmosfer dan berfungsi seperti atap rumah kaca yang mampu meneruskan radiasi gelombang panjang matahari, namun menahan radiasi inframerah yang diemisikan oleh permukaan bumi.
Gas-gas yang dimaksud antara lain adalah Karbon diokasida (CO2), Metan (CH4), Nitrous Oksida (N2O), Hydrofluorokarbon (HFCs), Perfluorokarbon (PFCs) dan Sulfur heksaflorida (SF6)
Sumber gas-gas rumah kaca tersebut dapat terbagi menjadi dua yaitu alami dan akibat aktifitas manusia. 
Gas rumah kaca yang terjadi secara alami adalah CO2, methane. Sedangkan gas yang dihasilkan akibat aktifitas manusia antaralain CO2 (Proses pembakaran bahan bakar fosil), NO2 (aktifitas pertanian dan industri), CFC, HFC, PFC (proses industri dan konsumen).
Terlihat jelas bahwa penyumbang terbesar gas rumah kaca adalah sektor kegunaan listrik, perindustrian, dan bahan bakar transportasi. Dikarenakan ini lah sekarang marak usaha berbagai pihak untuk menciptakan teknologi ramah lingkungan, sumber energi ramah lingkungan, dan kampanye-kampanye peduli lingkungan. Hal ini juga yang mendorong aliansi negara-negara di dunia untuk mengadakan kerjasama terkait upaya pengurangan emisi karbon mereka. Tujuannya adalah "Jump start the climate deal with a power section carbon bugget, drop global power sector emissions at least 10% at 2020, and roll out clean, green electricity across the world".

Efek Rumah Kaca


Radiasi matahari memasuki atmosfer bumi dan menghangatkan permukaannya. Beberapa radiasi dipantulkan kembali ke luar angkasa, dan sebagian lagi diserap dan dipantulkan oleh gas rumah kaca yang menumpuk di atmosfer dan membentuk semacam barrier. Hal ini mengakibatkan naiknya suhu permukaan bumi. Intinya, bertambahnya jumlah gas rumah kaca, berarti bertambahnya suhu. Ingin merasakan bagaimana bumi berada dalam keadaan seperti itu? tengoklah gambar di bawah ini. Yah, seperti inilah menderitanya bumi kita kawan.

 Apa efeknya?
Suhu yang semakin meningkat akan mancairkan glasier (es di kutub) dan menaikkan ketinggian rata-rata permukaan laut. Lebih lanjut, jika semua es di kutub mencair, jadinya akan seperti film "The Day After Tomorrow". Bumi kita akan tenggelam kawan,,,,,, serem.

Pemanasan global akan meningkatkan frekuensi dan intensitas terjadinya kondisi cuaca ekstrim seperti banjir, kekeringan, badai, tornado, gelombang panas, puting beliung, dan banyak lagi lainnya.


 Suhu yang tinggi, mengurangi jumlah permukaan salju di kutub. Hal tersebut tentu mampu merusak tiang ekosistem. Memaksa beberapa spesies keluar dari habitatnya karena lahan tempat tinggal mereka sudah tidak memungkinkan untuk dihuni lagi, itu artinya, spesies-spesies tersebut sudah berada di ambang kepunahan.

Solusinya apa?
"TREAT THE EARTH WELL. IT WAS NOT GIVEN TO YOU BY YOUR PARENTS, IT WAS LOANED TO YOU BY YOUR CHILDREN.

ADAPTASI dan MITIGASI. Kita, umat manusia, diharapkan berusaha keras untuk beradaptasi dengan segala perubahan ini. Tidak perlu lagi menambah gas rumah kaca, kita justru harus menguranginya.
Gunakan pula 4 R. REDUCE, REUSE, RECYCLE, dan RETHINK. BERPIKIR ULANG APA YANG TELAH KITA LAKUKAN KEPADA BUMI KITA INI, DANHARUS SADAR, BERDIRI, BERTINDAK AKTIF DEMI KESELAMATAN PLANET SATU-SATUNYA YANG KITA TINGGALI INI.

Kamis, 31 Oktober 2013

PAB 2013 Wawancara dengan Kakak Angkatan

Narasumber : Devin Susbandya (120210103067)

About Penerimaan Anggota Baru "Pulang Kampung" 2013

Bagaimana pendapat kakak mengenai PAB tahun ini?
" PAB untuk tahun ini, saya rasa akan dapat berjalan dengan lancar asalkan terbentuk team work yang solid antar panitia dan peserta. Sampai akhir ini situasinya kondusif, dan diharapkan sampai akhir nanti peserta dapat mengikuti instruksi yang diberikan seperti barang bawaan, maupun tugas-tugas lainnya secara lancar"

Apa sih sebenarnya fungsi dan tujuan diadainnya PAB ini? 
"Dalam PAB ini, bertujuan untuk membentuk jiwa peserta dalam berorganisasi. Seperti kita tahu, dalam berorganisasi perlu adanya kerja sama, keserasian struktur, sehingga mampu terjun ke masyarakat secara baik, dan mencerminkan bahwa inilah mahasiswa yang sebenarnya.
Mengenai tugas yang diberikan, sebenarnya semua tugas itu bertujuan baik bagi mahasiswa biologi kedepannya. seperti hafalan nama ilmiah, yang akan membantu mahasiswa kelak dalam berbagai percobaan, teori, maupun praktikum. Tugas yang diberikan tidak berat sebenarnya, so santai ajah"

Apa yang kakak harapkan setelah rampungnya serangkaian acara PAB ini?
"Setelah PAB selesai diharapkan Maba mampu menggunakan apa yang telah di dapat selama PAB untuk bekal menghadapi perkuliahan kedepannya. Disiplin bagus, mental kuliah bagus, perilaku seorang pendidik dapat muncul, keakraban antar angkatan terjalin baik, daaan masih banyak hal-hal baik yang kami harapkan kedepannya."

Oke, terima kasih ya kak atas waktunya, sebagai dokumentasi jepret dulu donk, cheeeseeeee :D